Kedatangan ketiga saya kali ini disambut dengan udara Manchester yang sangat jahat. Angin menghempas dengan kebut di luar sana. Butiran-butiran salju secara konstan turun sedikit demi sedikit semenjak pertengahan hari. Hingga menuliskan tulisan ini di dalam kereta ekspres bernama Virgin yang hendak mengantarkan saya kembali pulang menuju bagian selatan Inggris, serpihan-serpihan salju tersebut sayup terlihat di bawah temaram lampu stasiun kereta kota Stockport, pemberhentian pertama setelah Manchester Piccadilly. Di kota selanjutnya, Macclesfield, permukaan bumi dan atap tinggi rumah sudah beranjak memutih. Seketika saya tersadar saat Ira Kaplan bernyanyi melalui earphones Ipod yang sudah menancap di telinga semenjak mesin kereta dinyalakan.
“I woke up early, couldn’t go back to sleep
Cause I had been thinking of where it all would lead
So I made you wake up, I said, “Let’s take a walk,
I wanna hold your hand, we don’t have to talk”
There’s a big day coming about a mile away
There’s a big day coming I can hardly wait”
Tanpa sadar mulut mulai berucap melantunkan bait per bait lirik diatas. Entah perasaan macam apa ini, seketika itu pula saya keluarkan ponsel dari dalam kantong jins, mencari fitur aplikasi, dan menggulingkan trackpad ke bawah untuk menemukan di mana fitur notepad berada. Setelah itu bisa ditebak. Ingin rasanya mengingat kembali dan menuliskan perjalanan intim bersama Yo La Tengo kemarin malam di The Ritz, sebuah venue musik yang terletak di Whitworth Street, Greater Manchester.
Sekitar pukul 18:30, 30 menit sebelum pintu venue dibuka, badan ini sudah berdiri menahan gemuruh angin yang begitu menusuk di antara lini antrian di depan gedung The Ritz. Belum banyak orang datang. Saya nomor urut 4 dari baris paling depan.
Persis di depan pintu utama The Ritz, bus antar kota berwarna biru terparkir tanpa ada yang merisaukan. Biarpun kaca bus tersebut dilapisi kaca film hampir gelap total, mata ini masih bisa dengan jelas melihat Ira Kaplan sedang duduk membelakangi gedung. Tak lama kemudian, dari pintu bagian samping bus, sesosok wanita mungil memakai beanies dan jaket tebal terlihat masuk ke dalam. Georgia Hubley memasuki bus tersebut dengan menggenggam cup berisi minuman hangat. Setelah itu, James McNew juga ikut masuk dengan posisi tangan yang sama dengan Georgia.
Sebelumnya, James McNew dan saya sempat berpapasan di ujung jalan tepat di depan Sainsbury Express. Ingin sekali menyapa, tapi rasa gugup sulit sekali dikalahkan. Buat saya pribadi, menegur orang tak dikenal – apalagi ini James! – merupakan hal tersulit untuk dilakukan dalam hidup. Gugup tak bisa mengalah.
Pukul tujuh malam sudah mendarat. Gerbang pun akhirnya dibuka. Sempat terbesit untuk menunggu Ira, Georgia, dan James keluar dari bus karena mereka pasti akan melewati pintu yang sama dengan saya. Sampul piringan hitam album New Wave Hot Dogs dan buku Big Day Coming karangan Jesse Jarnow lengkap dengan spidol permanen bertinta hitam sudah sedemikian dipersiapkan. Tapi, ahh sudahlah, pojok merchandise menunggu di dalam. Kalau berjodoh pasti kita kan bertemu lagi. Begitu harap saya.
Setelah menukarkan beberapa lembar uang dengan sebuah kaos Yo La Tengo, bergegas kaki ini dilangkahkan demi mendapatkan tempat ternyaman di baris paling depan. 30 menit menjelang Yo La Tengo naik panggung, saya mendapati Ira sedang mengobrol dengan rekannya penjaga bilik merchandise. Rasa gugup itu datang lagi. Reflek saya memutuskan melangkahkan kaki balik ke belakang untuk menyambangi Ira disana. Dengan perasaan campur aduk saya melangkah, sambil bersiap-siap mengeluarkan spidol di dalam tas karena record dan buku sudah dalam genggaman. 4 langkah menjelang garis finish, Ira melesat pergi menuju utara panggung, sementara saya datang dari arah barat. Ingin mengejar dan memanggil ‘Ira!’, saya tak sanggup. Sirna lagi-lagi…
Set utama
Dalam tur Fade, Yo La Tengo membelah set menjadi dua bagian: akustik dan elektrik. Dengan durasi sekitar 2,5 jam, repertoar dari era album terlaris I Can Hear The Heart Beating As One, Summer Sun, 1993’s Painful, And Then Nothing Turned Itself Inside-Out, satu lagu dari Fakebook, dan tentu saja salah satu album terbaik di awal 2013 Fade, mereka luncurkan satu persatu dengan intensitas penuh. Satu yang amat saya pribadi sayangkan, tidak ada satu pun lagu dari album Yo La Tengo paling sempurna Electr-O-Pura terselip. Bahkan Tom Courtnenay, yang mana Timothy and Elizabeth Bracey analogikan seperti berikut: “Anyone who can’t enjoy ‘Tom Courtnenay – arguably the best pure pop song YLT has given us – is everyone you would never like to have over for dinner”, tidak juga dibawakan seperti malam sebelumnya di London.
Tapi tak mengapa, Yo La Tengo menebusnya dengan ideal. ‘I Heard You Looking’ adalah kompensasi yang membuat saya terkejut kagum seakan tak percaya kalau bisa mendengar trek panjang penutup album Painful tersebut secara langsung. Sekitar 10 menit, tidak ada secercah pun suara keluar dari mulut saya dan ribuan penonton lainnya. Lagu ini selalu sukses membuat tertunduk menerawang tiap kali saya mendengarnya. Tidak ada yang meragukan kepiawaian Ira dalam mengolah suara gitar, apalagi saya. Dengan tekun, mata dan telinga ini mengikuti dari awal apa mau Ira. Sangat tidak mungkin dia membiarkan lagu ini terdengar ‘nyaman’. Ira merobek-robek jantung lagu tersebut dengan menggaruk-garuk gitarnya, membolak-balik, kadang ujung gitar dihadapkan ke atas – kadang ke bawah, tetapi dengan kadar gaduh yang tidak membuat cacat telinga. Intensitas lagu ini memang luar biasa jika tidak mau dibilang sempurna.
‘Ohm’ yang sampai sejauh ini masih trek unggulan dari album Fade, mereka lantunkan dengan kudus dalam sesi akustik, dan mengaung dalam sesi elektrik. ‘Cornelia and Jane’ juga merupakan highlight malam itu. Georgia tidak perlu sedikitpun mengeluarkan usaha untuk bisa menghembuskan suara agung miliknya. Ya Tuhan….
Berbicara mengenai kenikmatan mendengar Georgia bernyanyi, beruntungnya lagi, saya bisa mendapati Georgia menggantikan peran Ira dalam menyanyikan ‘Big Day Coming’. Lagu terakhir yang disenderkan untuk menutup sesi akustik.
Setelah interval menuju set elektrik, James dan Georgia keluar dari tirai backdrop dengan bertukar posisi. James pada drum dan Georgia memegang kendali gitar. Sementara Ira tetap pada hakikatnya. Setelah itu, dua lagu dari album I Can Hear The Heart Beating As One ‘Moby Octopad’ dan ‘Autumn Sweater’ digeber secara runtun. ‘Let’s Save Tony Orlando House’, ‘Is That Enough’, ‘Before We Run’, ‘Nothing To Hide’, ‘Double Dare, ‘Ohm’, dan ‘I Heard You Looking’ yang begitu mempesona seperti saya ceritakan diatas, sukses melabuhkan hati ini di dermaga gema tak berpenduduk.
Encore
Pertunjukan belumlah usai. Ribuan penonton terus menerus memanggil nama Yo La Tengo. Merasa tidak puas dengan hanya meneriakan nama band, tanpa komando dentuman kaki kaki yang dihujamkan ke lantai menaikkan kadar hingar-bingar. Bisa terhitung dengan lima jari berapa kali saya bertepuk tangan saat mereka menuntaskan lagu demi lagu di dalam dua set sebelumnya. Tapi kali ini saya merasa terpanggil untuk mengikuti hal serupa dengan apa yang sebagian besar penonton lakukan. Memanggil-manggil nama Yo la Tengo agar kembali keluar, menderapkan langkah demi langkah menuju lantai, sementara dalam hati berharap ‘Tom Courtnenay’ atau ‘Sugarcube’ bisa terselip pada sesi encore.
Setelah tingkat keriuhan memuncak, James McNew, Georgia Hubley, dan Ira Kaplan akhirnya kembali. Tapi kali ini ternyata Tuhan tidak mendengar doa saya. Saya tahu Yo La Tengo memang gemar sekali membawakan ulang lagu musisi-musisi yang mereka idolakan. Bahkan Ira berpendapat, daripada Yo La Tengo melakukan tur/konser dengan konsep membawakan I Can Hear The Heart Beating As One secara keseluruhan seperti, contohnya, Dinosaur Jr memainkan album Bug dua tahun lalu atau Sonic Youth dengan Daydream Nation pada tahun 2007, lebih baik Yo La Tengo menggelar konser dengan membawakan ulang lagu-lagu dari penyanyi atau band idola mereka dari awal sampai akhir. Benar saja, Yo La Tengo memainkan ‘Action Time Vision’ milik Alternative TV dan satu lagu milik penyanyi R&B Amerika William DeVaughn ‘Be Thankful For What You Got’ yang mana karakter vokalnya (William DeVaughn) sepintas mengingkatkan kepada mendiang Curtis Mayfield. Setelah salah satu penonton di sebelah kiri panggung meneriakkan ‘From A Motel 6’ sebagai lagu penutup, maksud saya benar-benar lagu paling terakhir, lagu ini akhirnya berdendang sekaligus memusnahkan mimpi untuk – sekali lagi, maaf. Saya merasa harus mengulang-ulang nama lagu ini – mendengarkan ‘Tom Courtnenay’ secara langsung di hadapan sepasang mata dan kedua telinga.
Dengan santai James, Georgia, dan Ira menghilang di balik tirai. Setelah semuanya usai, saya masih saja berusaha mendapatkan kopian setlist berebutan dengan beberapa penonton lain. Apa daya, tangan ini tidak mampu mendapatkannya. Ya sudah, saya putuskan untuk kembali ke pojok merchandise demi membeli satu lagi kaos dengan desain yang berbeda. Anggap saja ini aksi balas dendam. Lagi-lagi keberuntungan tak berpihak. Kaos tersebut habis dan hanya menyisakan ukuran S dan XL. Telalu besar dan terlalu kecil.
Tetapi, jika ada yang bilang Tuhan Maha Adil, ternyata itu benar adanya. Sesosok pria ringkih berambut keriting tiba-tiba saja bergabung di balik meja merchandise. Ira Kaplan sudah siap menyambut saya! Tak berselang lama, Georgia juga turut serta untuk bergabung bersama Ira membubuhkan tinta di atas permukaan sampul buku Big Day Coming dan sampul piringan hitam New Wave Hot Dogs yang sudah dibawa dengan penuh asa dari rumah. Tanpa James.

























