Ira, Georgia, and James

Kedatangan ketiga saya kali ini disambut dengan udara Manchester yang sangat jahat. Angin menghempas dengan kebut di luar sana. Butiran-butiran salju secara konstan turun sedikit demi sedikit semenjak pertengahan hari. Hingga menuliskan tulisan ini di dalam kereta ekspres bernama Virgin yang hendak mengantarkan saya kembali pulang menuju bagian selatan Inggris, serpihan-serpihan salju tersebut sayup terlihat di bawah temaram lampu stasiun kereta kota Stockport, pemberhentian pertama setelah Manchester Piccadilly. Di kota selanjutnya, Macclesfield, permukaan bumi dan atap tinggi rumah sudah beranjak memutih. Seketika saya tersadar saat Ira Kaplan bernyanyi melalui earphones Ipod yang sudah menancap di telinga semenjak mesin kereta dinyalakan.

“I woke up early, couldn’t go back to sleep

Cause I had been thinking of where it all would lead
So I made you wake up, I said, “Let’s take a walk,
I wanna hold your hand, we don’t have to talk”

There’s a big day coming about a mile away

There’s a big day coming I can hardly wait”

Tanpa sadar mulut mulai berucap melantunkan bait per bait lirik diatas. Entah perasaan macam apa ini, seketika itu pula saya keluarkan ponsel dari dalam kantong jins, mencari fitur aplikasi, dan menggulingkan trackpad ke bawah untuk menemukan di mana fitur notepad berada. Setelah itu bisa ditebak. Ingin rasanya mengingat kembali dan menuliskan perjalanan intim bersama Yo La Tengo kemarin malam di The Ritz, sebuah venue musik yang terletak di Whitworth Street, Greater Manchester.

Sekitar pukul 18:30, 30 menit sebelum pintu venue dibuka, badan ini sudah berdiri menahan gemuruh angin yang begitu menusuk di antara lini antrian di depan gedung The Ritz. Belum banyak orang datang. Saya nomor urut 4 dari baris paling depan.

Persis di depan pintu utama The Ritz, bus antar kota berwarna biru terparkir tanpa ada yang merisaukan. Biarpun kaca bus tersebut dilapisi kaca film hampir gelap total, mata ini masih bisa dengan jelas melihat Ira Kaplan sedang duduk membelakangi gedung. Tak lama kemudian, dari pintu bagian samping bus, sesosok wanita mungil memakai beanies dan jaket tebal terlihat masuk ke dalam. Georgia Hubley memasuki bus tersebut dengan menggenggam cup berisi minuman hangat. Setelah itu, James McNew juga ikut masuk dengan posisi tangan yang sama dengan Georgia.

Sebelumnya, James McNew dan saya sempat berpapasan di ujung jalan tepat di depan Sainsbury Express. Ingin sekali menyapa, tapi rasa gugup sulit sekali dikalahkan. Buat saya pribadi, menegur orang tak dikenal – apalagi ini James! – merupakan hal tersulit untuk dilakukan dalam hidup. Gugup tak bisa mengalah.

Pukul tujuh malam sudah mendarat. Gerbang pun akhirnya dibuka. Sempat terbesit untuk menunggu Ira, Georgia, dan James keluar dari bus karena mereka pasti akan melewati pintu yang sama dengan saya. Sampul piringan hitam album New Wave Hot Dogs dan buku Big Day Coming karangan Jesse Jarnow lengkap dengan spidol permanen bertinta hitam sudah sedemikian dipersiapkan. Tapi, ahh sudahlah, pojok merchandise menunggu di dalam. Kalau berjodoh pasti kita kan bertemu lagi. Begitu harap saya.

Setelah menukarkan beberapa lembar uang dengan sebuah kaos Yo La Tengo, bergegas kaki ini dilangkahkan demi mendapatkan tempat ternyaman di baris paling depan. 30 menit menjelang Yo La Tengo naik panggung, saya mendapati Ira sedang mengobrol dengan rekannya penjaga bilik merchandise. Rasa gugup itu datang lagi. Reflek saya memutuskan melangkahkan kaki balik ke belakang untuk menyambangi Ira disana. Dengan perasaan campur aduk saya melangkah, sambil bersiap-siap mengeluarkan spidol di dalam tas karena record dan buku sudah dalam genggaman. 4 langkah menjelang garis finish, Ira melesat pergi menuju utara panggung, sementara saya datang dari arah barat. Ingin mengejar dan memanggil ‘Ira!’, saya tak sanggup. Sirna lagi-lagi…

Set utama

Dalam tur Fade, Yo La Tengo membelah set menjadi dua bagian: akustik dan elektrik. Dengan durasi sekitar 2,5 jam, repertoar dari era album terlaris I Can Hear The Heart Beating As One, Summer Sun, 1993’s Painful, And Then Nothing Turned Itself Inside-Out, satu lagu dari Fakebook, dan tentu saja salah satu album terbaik di awal 2013 Fade, mereka luncurkan satu persatu dengan intensitas penuh. Satu yang amat saya pribadi sayangkan, tidak ada satu pun lagu dari album Yo La Tengo paling sempurna Electr-O-Pura terselip. Bahkan Tom Courtnenay, yang mana Timothy and Elizabeth Bracey analogikan seperti berikut: “Anyone who can’t enjoy ‘Tom Courtnenay – arguably the best pure pop song YLT has given us – is everyone you would never like to have over for dinner”, tidak juga dibawakan seperti malam sebelumnya di London.

Tapi tak mengapa, Yo La Tengo menebusnya dengan ideal. ‘I Heard You Looking’ adalah kompensasi yang membuat saya terkejut kagum seakan tak percaya kalau bisa mendengar trek panjang penutup album Painful tersebut secara langsung. Sekitar 10 menit, tidak ada secercah pun suara keluar dari mulut saya dan ribuan penonton lainnya. Lagu ini selalu sukses membuat tertunduk menerawang tiap kali saya mendengarnya. Tidak ada yang meragukan kepiawaian Ira dalam mengolah suara gitar, apalagi saya. Dengan tekun, mata dan telinga ini mengikuti dari awal apa mau Ira. Sangat tidak mungkin dia membiarkan lagu ini terdengar ‘nyaman’. Ira merobek-robek jantung lagu tersebut dengan menggaruk-garuk gitarnya, membolak-balik, kadang ujung gitar dihadapkan ke atas – kadang ke bawah, tetapi dengan kadar gaduh yang tidak membuat cacat telinga. Intensitas lagu ini memang luar biasa jika tidak mau dibilang sempurna.

‘Ohm’ yang sampai sejauh ini masih trek unggulan dari album Fade, mereka lantunkan dengan kudus dalam sesi akustik, dan mengaung dalam sesi elektrik. ‘Cornelia and Jane’ juga merupakan highlight malam itu. Georgia tidak perlu sedikitpun mengeluarkan usaha untuk bisa menghembuskan suara agung miliknya. Ya Tuhan….

Berbicara mengenai kenikmatan mendengar Georgia bernyanyi, beruntungnya lagi, saya bisa mendapati Georgia menggantikan peran Ira dalam menyanyikan ‘Big Day Coming’. Lagu terakhir yang disenderkan untuk menutup sesi akustik. 

Setelah interval menuju set elektrik, James dan Georgia keluar dari tirai backdrop dengan bertukar posisi. James pada drum dan Georgia memegang kendali gitar. Sementara Ira tetap pada hakikatnya. Setelah itu, dua lagu dari album I Can Hear The Heart Beating As One ‘Moby Octopad’ dan ‘Autumn Sweater’ digeber secara runtun. ‘Let’s Save Tony Orlando House’, ‘Is That Enough’, ‘Before We Run’, ‘Nothing To Hide’, ‘Double Dare, ‘Ohm’, dan ‘I Heard You Looking’ yang begitu mempesona seperti saya ceritakan diatas, sukses melabuhkan hati ini di dermaga gema tak berpenduduk.

Encore

Pertunjukan belumlah usai. Ribuan penonton terus menerus memanggil nama Yo La Tengo. Merasa tidak puas dengan hanya meneriakan nama band, tanpa komando dentuman kaki kaki yang dihujamkan ke lantai menaikkan kadar hingar-bingar. Bisa terhitung dengan lima jari berapa kali saya bertepuk tangan saat mereka menuntaskan lagu demi lagu di dalam dua set sebelumnya. Tapi kali ini saya merasa terpanggil untuk mengikuti hal serupa dengan apa yang sebagian besar penonton lakukan. Memanggil-manggil nama Yo la Tengo agar kembali keluar, menderapkan langkah demi langkah menuju lantai, sementara dalam hati berharap ‘Tom Courtnenay’ atau ‘Sugarcube’ bisa terselip pada sesi encore.

Setelah tingkat keriuhan memuncak, James McNew, Georgia Hubley, dan Ira Kaplan akhirnya kembali. Tapi kali ini ternyata Tuhan tidak mendengar doa saya. Saya tahu Yo La Tengo memang gemar sekali membawakan ulang lagu musisi-musisi yang mereka idolakan. Bahkan Ira berpendapat, daripada Yo La Tengo melakukan tur/konser dengan konsep membawakan I Can Hear The Heart Beating As One secara keseluruhan seperti, contohnya, Dinosaur Jr memainkan album Bug dua tahun lalu atau Sonic Youth dengan Daydream Nation pada tahun 2007, lebih baik Yo La Tengo menggelar konser dengan membawakan ulang lagu-lagu dari penyanyi atau band idola mereka dari awal sampai akhir. Benar saja, Yo La Tengo memainkan ‘Action Time Vision’ milik Alternative TV dan satu lagu milik penyanyi R&B Amerika William DeVaughn ‘Be Thankful For What You Got’ yang mana karakter vokalnya (William DeVaughn) sepintas mengingkatkan kepada mendiang Curtis Mayfield. Setelah salah satu penonton di sebelah kiri panggung meneriakkan ‘From A Motel 6’ sebagai lagu penutup, maksud saya benar-benar lagu paling terakhir, lagu ini akhirnya berdendang sekaligus memusnahkan mimpi untuk – sekali lagi, maaf. Saya merasa harus mengulang-ulang nama lagu ini – mendengarkan ‘Tom Courtnenay’ secara langsung di hadapan sepasang mata dan kedua telinga.

Dengan santai James, Georgia, dan Ira menghilang di balik tirai. Setelah semuanya usai, saya masih saja berusaha mendapatkan kopian setlist berebutan dengan beberapa penonton lain. Apa daya, tangan ini tidak mampu mendapatkannya. Ya sudah, saya putuskan untuk kembali ke pojok merchandise demi membeli satu lagi kaos dengan desain yang berbeda. Anggap saja ini aksi balas dendam. Lagi-lagi keberuntungan tak berpihak. Kaos tersebut habis dan hanya menyisakan ukuran S dan XL. Telalu besar dan terlalu kecil.

Tetapi, jika ada yang bilang Tuhan Maha Adil, ternyata itu benar adanya. Sesosok pria ringkih berambut keriting tiba-tiba saja bergabung di balik meja merchandise. Ira Kaplan sudah siap menyambut saya! Tak berselang lama, Georgia juga turut serta untuk bergabung bersama Ira membubuhkan tinta di atas permukaan sampul buku Big Day Coming dan sampul piringan hitam New Wave Hot Dogs yang sudah dibawa dengan penuh asa dari rumah. Tanpa James.

P1040693 P1040687 P1040684 P1040669 P1040663 P1040660 P1040636

Posted in Uncategorized | Leave a comment

mbv

Sedikit menyesal meremehkan tulisan, mungkin ini lebih seperti nasihat bijak, yang tertera di banyak sisi tembok Hammersmith Apollo malam itu: ‘Earplugs are available everywhere’. Saya menganggap ‘ear service’ itu mungkin sekedar basa-basi, atau diutamakan untuk mereka yang tak kuat menahan gaduh. Tapi untuk My Bloody Valentine, jika kadar bising adalah hal sublim yang paling dicari, mengapa pakem itu harus dibatasi?

Gedung pertunjukan bernama Hammersmith Apollo di kota London malam itu menjadi saksi bagaimana kadar kebisingan yang secara literal amat sangat mengganggu indra pendengaran, tetapi tidak untuk indra penglihatan, menjadi suguhan pertunjukan musik paling kolosal yang pernah saya alami.

Menuju panggung, Le Volume Courbe bertindak menjadi satu-satunya band pembuka. Sentuhan-sentuhan indie pop a la Belle and Sebastian, country rock Creedence Clearwater Revival, desisan Velvet Underground, pekatnya Esben & The Witch, legam mewarnai arwah musikal mereka. Saya pribadi cukup menikmati penampilan band ini secara visual. Ditambah komposisi musik yang terdengar rapih di telinga, lagu-lagu bagus, sehingga mampu menciptakan perasaan maklum kepada kualitas tata suara yang jelas kurang dioptimalkan.

Mengenai tata suara inferior Le Volume Courbe, hal ini berbanding terbalik 180 derajat dengan kenyataan yang ada pada sistem tata suara My Bloody Valentine. Keras, jernih, tajam, dan terperinci di setiap lini. Suara-suara efek gitar Kevin Shields seperti teror terindah yang merasuk getir ke setiap inci per inci ruang dan rongga kulit, mengorek-ngorek alam bawah sadar melalui medium pisau berkarat, sebelum akhirnya saya benar-benar meyakini kalau peran Kevin seperti The Messenger dalam sejarah ‘Ksatria Bergitar’ yang pernah ada. Bilinda Butcher mengenakan dress berwarna hijau, tampak anggun dan penuh misteri dari kejauhan, sekaligus membius seisi ruang gedung dengan suara malaikat mematikannya. Gebukan repetitif Colm membumi dan menyatukan partikel-partikel tercecer dari apa yang ditawarkan Kevin. Selain cabikan maut padat Debbie Googe, diperhatikan dari gesturnya, wanita ini seperti Paul Simonon yang menolak tua. Saya sampai harus memastikan dengan cara naik turun tangga beberapa kali, hanya untuk meyakini kalau saya sedang bermimpi atau tidak.

Segenap jajaran indra perasa saya sebenarnya sudah mulai mengalami turbulensi semenjak ‘All I Said’ didapuk menjadi lagu pembuka. Satu hal menuntun ke hal lain. Unit Dublin shoegazing ini seakan tak memberi ruang bagi sistem saraf manusia di dalam gedung pertunjukan tersebut untuk beristirahat. Melalui rentetan inkorporasi lagu-lagu dari album rekaman Tremolo – You Made Me Realise – Isn’t Anything – Loveless – (dan tentu saja) MBV, sapuan gelombang tsunami supersonik menjadi sesuatu yang (tak pelak lagi) mematikan. Tetapi di lain sisi, gelombang tersebut mengelevasi kehidupan manusia yang sudah porak poranda tadi menuju kehidupan utopis di alam luas tertutup nan gelap dan merah. Magis.

Saya diantarkan menuju petualangan kosmis tadi dengan menggunakan kendaraan-kendaraan tak beroda bernama ‘When You Sleep’, ‘Honey Power’, ‘Cigarette In your Bed’, ‘Only Shallow’, ‘To Here Knows When’, ‘Soon’, ‘Feed Me With Your Kiss’, ‘Only Tomorrow’, dan juga ‘New You’, atau ‘Thorn’, atau Slow (agar lebih rinci, hampiri situs-situs setlist konser favorit anda).

Puncak kejayaan gemuruh mega gaduh tersebut ada pada ‘You Made Me Realise’. Lagu yang aslinya menghabiskan waktu kurang dari 4 menit ini ditarik lebih panjang menuju menit 12-ish. Kira-kira mulai dari menit ke-3 sampai menit ke-11, taraf derau yang tadinya masih dapat ditolerir gendang telinga, secara perlahan menunjukan titik jenuhnya. Barisan derau-derau tersebut belum menemukan posisi nyaman ternyata. Secara perlahan, terus menerus, mereka meraung-raung gaduh. Semakin keras, semakin menyalak. Maksimum memekakkan telinga. Kevin Shields dan kompatriotnya yang tampak nyaman saja di atas panggung, tanpa belas kasihan menggaruk-garuk instrumen mereka masing-masing selama kurang lebih 10 menit dan mengantarkan hasil keriuhannya kepada ribuan penonton yang terlihat semakin gusar. Mereka (My Bloody Valentine) berhasil.

Tidak sedikit dari penonton di tribun atas maupun kelas floor standing yang tampak tak kuat dengan pelintiran nada pekak tersebut. Mereka terlihat menyerah dengan pose menutup kedua kuping. Sama halnya dengan apa yang saya lakukan. Kapasitas tampung dua telinga ini sudah tidak kuat digeber sedemikian bising, ini sudah mencapai titik maksimum. Ingin rasanya menggaruk-garuk dinding berlapis karpet ruang gedung pertunjukan tersebut sembari mengerang lepas. Pedih.

Setelah interval ultra-ribut tersebut usai, potongan lagu ‘You Made Me Realise’ di paruh awal yang masih tersisa beberapa menit, akhirnya disambung kembali dan dituntaskan dengan menyisakan getar suara mesin rotor berkarat sesudahnya. Gemuruh sorak-sorai penonton spontan terdengar setelah sebelumnya terpaku tak bernyawa.

Colm Ó Cíosóig keluar dari balik set drum dan bergabung ke lini depan bersama Bilinda, Debbie, dan Kevin untuk menutup set malam pertama dari dua malam gelaran tur My Bloody Valentine di London dengan Wonder 2. Trek jagoan saya dari album 2013’s mbv yang merefleksikan babak berikutnya dari rangkaian Isn’t Anything dan Loveless. Beda zaman, citarasa serupa.

All in all, that was the most extremely musical experience moment that has ever happened in my life by far. Monstrous, endearing, and catastrophically loud were all the way for sure. MBV!

P1040594 P1040595 P1040634

P1040628P1040558

P1040554

Posted in Uncategorized | Leave a comment

40 years of Cock Sparrer & 20 years of Rancid di London

“I am Barcelona! Messi!!’ seru seorang skinhead dengan aksen Inggris-latin di depan saya yang juga sedang mengantri dibukanya loket pembelian tiket perayaan ’20 years of Rancid & 40 years of Cock Sparrer’. Pemuda skinhead itu tidak sedang bicara sendiri. Dia sedang berbincang dengan koleganya sesama skinhead yang ditebak dari logatnya berasal dari belahan timur Eropa, dan kebetulan juga baru ia kenal di lini antrian tiket. Dengan respon meyakinkan, skinhead beraksen Eropa Timur tersebut balas menjawab “I support Real Madrid” dengan nada bicara lebih tenang. “What the fuck?! Why’d you support Madrid?” -begitu kira-kira yang tertangkap – tanya skinhead pertama tadi, “Because it ‘s Real!…. but I support West Ham United”’. Nah, dari situ akhirnya muncul kesepakatan diantara mereka. “Yeah yeahh man I support West Ham United, too.!”, lempar skinhead beraksen Latin tersebut, sambil menunjukan pin bendera inggris di ujung kerah coat tebal miliknya.

Perdebatan sengit diatas yang akhirnya memunculkan mufakat pastilah bukan tanpa sebab. Saya rasa mereka yang berasimilasi dengan warisan subkultur anak muda Inggris seperti mod, punk, rude boy, suedehead, atau casual maupun skinhead pada khususnya, di belahan dunia manapun, banyak yang mendukung West Ham United atau setidaknya menaruh rispek pada klub sepakbola influensial asal London Timur tersebut. Kalau diuraikan apa penyebabnya itu bisa jadi cerita lain lagi. Jelasnya, salah satu band yang mana akan mereka/saya tonton beberapa jam kemudian, Cock Sparrer, juga mempunyai imej pekat dengan asa claret & blue serta The Hammers yang taat.

Menonton band-band dengan intensitas musik punk/oi! tinggi mungkin nampak terlihat cemen apabila memilih balkon atas sebagai tempat untuk menonton. Tapi apa boleh buat, kategori downstairs standing sudah penuh terisi (baca: kehabisan tiket). Menyaksikan gig ini sembari duduk juga tidaklah mengapa saya rasa. Ambil positifnya saja, selain tentu saja tidak pegal berdiri, saya juga kapok pulang ke rumah dalam keadaan lengket karena siraman bir yang selalu saja berhamburan di konser-konser yang saya singgahi sebelumnya semenjak saya hijrah sementara ke London. High Wycombe tepatnya tempat saya tinggal.

Last Seen Laughing, band Oi! asal kota Aarhus, Denmark, (saya baru tahu info ini sehari sehabis konser setelah mampir ke halaman facebook mereka) didapuk menjadi penampil premier. Berawakan hanya tiga orang saja, dua skinhead dan satu orang punk berbadan gendut, melalui ketukan-ketukan cepat dan riff gitar khas musik Oi! punk, band ini tidak gagal untuk memanaskan suasana. Plus sistim tata suara prima. Saya cukup menikmati penampilan mereka. Jika saja saya tahu lagu-lagu yang dimainkan, cukup 3 lagu saja, pasti akan terasa lebih oke. Jadi kerjaan saya tidak hanya mengepak-epakkan tangan ke paha layaknya drummer dan mengangguk-anggukan kepala saja sepanjang set 30 menit-an mereka. Oya, band ini juga cukup komunikatif. Dua orang skinhead di dalam band ini perlu berterimakasih banyak kepada teman gendutnya tersebut ,karena tanpa dia teori komunikasi Laswell tidak akan berjalan dengan baik.

Dengan berakhirnya Last Seen Laughing, the mighty Cock Sparrer – begitu Lars Frederiksen menyebutnya – sudah dipastikan akan merebut panggung dan membuat kerumunan massa yang tadinya berkongsi di pojok-pojok dan pinggir venue bergerak maju ke tengah merapatkan barisan. Dari atas bisa terlihat para lelaki berambut-habis memegang tampuk kekuasaan mosh pit. Suara melodi gitar yang menyerupai sirine mobil polisi/ambulans berbunyi, berarti ‘Riot Squad’ dari album kedua Shock Troops (1983) setelah mereka hengkang dari Decca Records bergema sebagai pemicu gelombang pasang. Nukilan lirik “Smoking, drinking, acting cool” adalah semacam mantra yang selalu nemplok di kepala saya semenjak pertama kali mendengarkan lagu ini entah kapan.  Berlanjut dengan lagu-lagu galak lainnya seperti ‘Watch your back’, ‘Working’, ‘What’s it like to be old’, ‘Argy bargy’, ‘Running riot, ‘I got your number’, ‘Because you’re young’ yang dikuntit tabuhan drum intro ‘Take ‘em all’ segera tanpa jeda setelah barisan lirik terakhir “you never listen to anyone because you’re young” dinyanyikan audiens dengan lantang telah selesai, ‘England belongs to me’ yang mengakibatkan sulit untuk tidak mengepalkan kedua tangan di udara, dan ‘We’re coming back’ sebagai letusan terakhir.

Sedikit catatan kecil, Lars Frederiksen dari Rancid juga turut serta berbagi mikrofon dengan Colin McFaull pada bagian refrain ‘Take ‘em all’ setelah dirinya diundang untuk maju ke bagian depan panggung. Ah, lagu ini. Jadi ingat betapa menggelikannya ketika Trio Macan diberitakan oleh berbagai acara infotainment stasiun televisi Indonesia mencomot dengan telanjang nada refrain ‘Take ‘em all’ dari Cock Sparrer untuk dijadikan dasar lagu ‘Iwak Peyek’. Trio Macan – Cock Sparrer, Jawa Timur – London Timur, Oi! – dangdut. Terkadang analisa media infotainment terlampau jauh melompati pemikiran Nostradamus sekalipun.

Berikutnya The Forum London (venue) mempunyai Rancid. Perlahan tapi jelas massa yang tadinya berbadan tegap, rapih, gagah, matang dan juga botak, bergradasi menjadi remaja-remaja usia silver, berdandan punk ala era ‘76, ‘80, ‘90, sampai kontemporer punya gaya. Beberapa skinhead gaek yang tadinya duduk di belakang saya pun sudah tampak mengundurkan diri walaupun di lantai bawah juga masih terlihat cukup banyak skinhead tercecer.

“Never fell in love until I fell in love with you…..” disenandungkan Tim Armstrong dengan lirih dan parau, nyaris sama dengan versi rekaman 18 tahun lalu, memancing histeria sekaligus memicu penonton menyanyikan bersama sebaris lirik terakhir intro ‘Radio’ sebagai lagu pertama: “for when the music hit I feel no pain at all”… dan jjjjrrreeeeenggggg (bunyi gitar)… setelah stik drum terakhir jatuh selepas rentetan gebukan kilat pada bagian snare, turbulensi lebih ganas sontak bergejolak. Simpul massa bergerak merekah. ”Radio radio radio radio…..” begitu teriak penonton yang menenggelamkan vokal Lars saat berbagi porsi bernyanyi di bagian serupa. Tak dikasih ampun, ‘Roots radical’ segera meluncur di posisi kedua membuat massa tumpah ruah dalam keriaan punk rawk show. Kali ini lebih terombang-ambing daripada pusaran band sebelumnya.

Di tengah-tengah repertoar runcing seperti ‘Last one to die’, ‘Maxwell murder’, ‘Journey to the end of east bay’, ‘Nihilism’, ‘The 11th hour’, ‘MIA’, ‘Olympia, WA’, ‘I wanna riot’, ‘Hooligans’, ‘Rejected’, ‘Salvation’, atau ‘Fall back down’ sebagai lagu terakhir ronde pertama sebelum interval menuju encore, ada satu lagu baru berjudul ‘Fuck You’ terselip. Usaha trolling yang cerdas dalam menamakan lagu baru, mengingat kata umpatan tersebut sangat empuk untuk dikunyah dan diludahkan kembali keluar.

Malam itu Rancid menggelontorkan dua anthem dari album eminen …And Out Come The Wolves guna dijadikan bahan bakar kala encore. Bom waktu meledak. ‘Time Bomb’ mengudara dan kemudian disusul ‘Ruby Soho’ sebagai pelor terakhir dari selongsong ke 26. “Destination unknown… ruby ruby ruby soho!” penonton bernyanyi lebih keras sebagai penghormatan terakhir. Dan sebagai penghormatan balik, Tim maju turun setelah set Rancid benar-benar tuntas untuk sekedar menyapa, memberikan secarik kertas berisi daftar repertoar, membubuhkan tanda tangan, dan berfoto bersama para penonton di balik besi barikade yang terlihat ‘lapar’ untuk bercengkrama dengan idolanya.

Berondongan gemuruh musik Oi! dan punk dari Last Seen Laughing, Cock Sparrer, dan Rancid membuat saya terjaga penuh bak The Palace Guard. Tak ada cerita mulut menguap walau waktu sudah melewati jam saya tidur.  Tak ada embel-embel klub sepakbola antar penonton ternyata di dalam. Semua melebur. Mengangkat gelas! Tinggi!

*untuk melihat cuplikan foto-foto yang tertangkap, sila disini: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10200283775561972.2199903.1381022011&type=1

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gugup Gempita di Maida Vale

Menurut saya, alangkah lebih sulit sebetulnya untuk menonton konser salah satu band idola dari jarak yang sangat dekat, sebutlah 5 meter. Sesulit mencerna akal sehat jika sedang dalam perasaan grogi, kalut, atau cemas .Perasaan-perasaan semacam inilah yang menimpa saya saat mendapatkan kesempatan langka untuk menyaksikan Blur for BBC Radio 6 Live at Maida Vale Studios dan melakukan obrolan singkat dengan sang bassist, Alex James, di akhir acara.

Dengan hanya bermodal mendaftarkan diri secara gratis di situs resmi BBC (Be In Audience) 3 minggu sebelumnya, saya adalah salah satu dari kurang lebih 200 orang yang beruntung menyaksikan panggung pemanasan Blur di BBC Maida Vale Studios sebelum mereka melenggang ke acara puncak rangkaian tour singkat Blur tahun ini di London Hyde Park, sekaligus merayakan penutupan Olympic Games London 2012.

Tur singkat ini sendiri adalah rangkaian promo dua single teranyar (Puritan – Under The Westway) yang dimulai pada awal bulan Juli di salah satu Rooftop kawasan London barat, menyusul beberapa kota di UK, dua festival musik di Eropa, dan kemudian akan bermuara di London Hyde Park pada tanggal 12 Agustus 2012.

Dalam perayaan penutupan Olympic Games 2012 di London Hyde Park, Blur juga akan berbagi panggung dengan band-band yang tidak kalah influensial seperti New Order, The Specials, dan Bombay Bicycle Club.

Setelah sesi wawancara kasual dan menyegarkan dengan Steve Lamacq selesai, Dave rowntree, Damon Albarn, Graham Coxon, dan Alex James muncul satu-persatu dari bliik studio sebelah kiri panggung dengan santainya. Sesantai tata busana masing-masing personil yang malam itu mengenakan t-shirt garis-garis (Graham), Polo Shirt (Dave), sweater biru lengan panjang (Alex), jaket Harrington (Damon), dengan semuanya bercelanakan Jeans. Blur standards.

Total ada 6 lagu yang dibawakan untuk BBC Radio 6 set sore itu. ‘Jubilee’, ‘Puritan’, ‘Caramel’, ‘Trimm Trabb’, ‘Young and Lovely’, dan ‘Under The Westway’. Menilik dari urutan lagu diatas, bisa dibilang ini adalah playlist ajaib. Bagaimana tidak, Blur tidak pernah memainkan ‘Caramel’ secara Live sepanjang karir bermusik mereka, lalu track ‘Young and Lovely’ juga baru akan dimainkan untuk kedua kalinya setelah bertahun-tahun lamanya. Keberuntungan saya berlipat ganda.

Membuka dengan track ‘Jubilee’ dari album Parklife, raungan crunchy gitar Coxon yang dibalut dengan dentuman bulat bass drum Dave terasa memekakkan telinga sekaligus membelah ‘dingin’nya studio Maida Vale yang legendaris itu. Lagu kedua sebelum Blur menutup sesi live pertama adalah ‘Puritan’, track disko ringan yang didaulat menjadi track  no.2  pada versi 7” ‘under the westway’ ini meluncur dengan gemulai.

Sebetulnya konser live yang terbagi dalam tiga sesi ini, dimana dalam satu sesi blur berkesempatan membawakan dua lagu sungguh mengganggu mood saya sebagai penonton maupun band sebagai penampil. Prasangka saya ini pun didukung dengan kelakar Damon setelah dia meninggalkan panggung sesi pertama dengan berteriak “I told you, it’s weird session”. Namun hal tersebut buat saya bisa dimaklumi karena sesi Blur BBC Radio 6 ini memang bukanlah konsep konser ‘ideal’ yang sesungguhnya.

Dua lagu dalam sesi selanjutnya adalah ‘Caramel’ dan ‘Trimm Trabb’ dari album Blur bertajuk 13. Album Blur pertama yang tidak diracik oleh tangan Stephen Street, seorang produser handal yang juga bertanggung jawab atas munculnya album-album esensial kepunyaan The Smiths, The Cranberries, The Ordinary Boys, atau Babyshambles diantaranya. Tingkat kebisingan sound gitar Coxon yang utopis ditambah cara bernyanyi Damon yang gelisah pada ‘Caramel’ seakan menenggelamkan saya ke dalam dunia abu-abu mereka sampai pada saat perasaan getir itu dipecah oleh kocokan intro gitar ‘Trimm Trabb’ yang impresif.

Sesi terakhir diperuntukkan kepada track ‘Young and Lovely’ dan ‘Under the Westway’. ‘Young and Lovely’ dari B-side ‘Chemical World’ single, berhasil mereka bawakan dengan apik sebagai lagu kelima pada sesi terakhir hari itu. Secara literal, lagu ini terasa ‘Young and Lovely’ memang.  Lalu, seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya,  jika ‘Under The Westway’ didaulat sebagai lagu pamungkas, maka konser Blur hari itu akan berakhir haru. Dengan dimulainya  sayatan melodius nan emosional dari gitar Coxon disusul dengan penggalan lirik awal  “There were blue skies in my city today…” yang dilantunkan Damon sembari menarikan jari-jemarinya diatas tuts piano, lagu ini saya sematkan menjadi juru selamat gig hari itu. Konser intim Blur di studio Maida Vale-pun berakhir dengan megah dan magis.

Sedikit tambahan, setidaknya ada tiga poin menarik yang tertangkap dari obrolan singkat saya bersama sang Bassist ramah, Alex James, di luar studio sebelum Blur melanjutkan kembali untuk perform di BBC Radio 2. Pertama, dia menanyakan tentang seberapa besar pernggemar Blur di Indonesia, lalu dengan gugup tapi penuh keyakinan saya menjawab “Very huge, it’s massive!”. Kedua, sayangnya dia mempertegas asumsi selama ini kalau tidak akan ada pangung-panggung Blur lain setelah Hyde Park. Kemudian yang terakhir, saya menanyakan apa yang akan dia lakukan setelah Blur dibekukan (lagi), dan dengan santainya Alex merespon kalau dia akan kembali berkebun di perkebunannya di Oxfordshire, Inggris Selatan.

Setelah percakapan singkat nan hangat dengan Alex berakhir dan menyadari kalau baru saja menjadi saksi mata aksi fantastis dari salah satu unit Britpop garda depan yang pernah dimuntahkan Inggris Raya dalam bentuk konser ekslusif, perasaan nervous bercampur bahagia itu pun semakin bergemuruh. Konser intim gratis, set-list langka, bincang hangat dengan Alex James, rasa gugup ini berakhir dengan sempurna.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

London Hyde Park (Olympic Closing Ceremony 2012)

Bertempat di Hyde Park yang terbentang luas dalam pusat kota London, salah satu selebrasi tutup acara Olympic London 2012 digelar secara lebih ekslusif. Semacam alternatif dari seremoni utama berkadar extravaganza di Olympic Stadium yang menyajikan musisi-musisi digdaya Inggris seperti Madness, Take That, Spice Girls, George Michael, Ray Davies, sampai The Who untuk bermain langsung di hadapan puluhan ribu penonton di dalam stadion dan milliaran penonton lainnya dari seluruh penjuru dunia, selebrasi Hyde Park juga tidaklah kalah untuk menjaring perhatian arus massa dalam skala yang lebih sederhana. Jajaran band-band hebat Inggris lainnya seperti Bombay Bicycle Club, New Order, The Specials, dan Blur sebagai raja terakhir, mampu membuat Hyde Park tertutup oleh lautan manusia yang ditafsir berjumlah sekitar 80.000 orang.

Beberapa saat sebelum memasuki venue, saya mendapat kabar via Twitter kalau sementara tiga band lainnya (Bombay Bicycle Club, New Order, The Specials) masing-masing mendapatkan jatah durasi untuk bermain selama 60 menit, lain halnya dengan Blur. Blur mendapatkan porsi untuk bermain lebih lama dalam kisaran 120 menit. Tentu saja dengan durasi sepanjang itu, bukan tidak mungkin kalau mereka akan meleburkan kumpulan B-Sides dan The Best Of dalam satu arena. Malam akan berjalan sedikit lebih panjang pikir saya.

Saat jarum jam menunjuk pukul 16:30 waktu setempat, Bombay Bicycle Club sebagai penampil pertama menghentak dengan nomor manis ‘How You Can Swallow So Much Sleep’, track pertama dari album terakhir mereka A Different Kind Of Fix. Saat lagu ini dimainkan, saya masih sibuk mengantri di lini antrian merchandise demi meraih selembar poster Blur dan satu buah kaos New Order berukuran medium. Rentang harga merchandise pun beragam, mulai dari 5 pounds untuk selembar poster dan perintilan lainnya, t-shirt yang dibandrol 20-25 pounds, sampai 35 pounds untuk  jumper hoodie.

Kembali ke Bombay Bicycle Club di atas panggung, pelarutan lagu-lagu hits dari dua album mereka (Flaws, A Different Kind Of Fix) seperti ‘Your Eyes’, ‘Dust On The Ground,’ ‘Ivy Gold’, ‘Lights Out Words Gone’ dibawakan dengan sangat apik sebelum mereka menutup set yang meneduhkan tersebut dengan ‘Shuffle’. Penonton merespon dengan bersorak dan memberikan tepuk tangan yang apresiatif untuk band London satu ini.

Berikutnya, New Order dilepas sebagai penampil kedua. Bernard Sumner yang sore itu terkesan kaku, mengenakan kemeja hitam tak dikancing melapisi kaos bertuliskan nama bandnya sendiri, yang mana kemudian membuka set secara dingin melalui ‘Elegia’ sebelum menghajar kuping puluhan ribu penonton yang menjejali Hyde Park dengan ‘Crystal’ dari album Get Ready. Sebuah album pembuktian bagi New Order kalau ternyata mereka masih ‘menyengat’ setelah 8 tahun terlelap semenjak rilisnya album Republic pada tahun 1993.

Selain lagu-lagu hits seperti ‘Ceremony’, ‘The Perfect Kiss’, ‘Bizzare Love Triangle’, ‘Blue Monday’, atau ‘Temptation’ diantaranya, 2 lagu Joy Division juga mereka panggungkan secara gagah. ‘Isolation’ sebagai lagu keempat, dan ‘Love Will Tear Us Apart’ didaulat sebagai lagu terakhir.

Sebagai catatan lebih, ‘Love Will Tear Us Apart’ semacam menjadi amunisi eksplosif untuk memancing paduan suara seantero Hyde Park, terlebih pada bagian refrain yang dihiasi oleh kemunculan sosok mendiang Ian Curtis di layar panggung secara visual. Lagu ini juga menjadi semacam justifikasi bahwa sejauh apapun mereka melangkah, bayang-bayang Joy DIvison sudah terlampau pekat untuk New Order. Hal tersebut kembali dipertegas dengan munculnya pernyataan ‘Forever Joy Division’ pada layar elektronik belakang panggung beberapa menit menjelang New Order menuntaskan set.

Selanjutnya adalah The Specials. Membuka dengan ‘Do the Dog’, kemunculan kolektif veteran 2-tone Coventry ini membuat sebagian besar penonton Hyde Park berdansa dan bernyanyi dengan penuh suka cita. Pun sebelum mereka naik panggung para penonton sudah banyak yang meneriakan yel-yel ‘Specials’ dan ‘Rude Boy’ lengkap dengan ketukan tepuk tangan penonton ala suporter sepakbola, dan hal ini terus berlanjut sesekali selama durasi panggung 60 menit mereka. Walaupun tanpa kehadiran original member Jerry Dammers dan hilangnya ‘Ghost Town’ dari set-list, Terry Hall dan kawanannya mampu mencairkan suasana beku yang diakibatkan oleh ulah New Order.

Kemudian juga, The Specials seakan mempersembahkan luasnya Hyde Park yang sudah rata ditutup dengan sabut kelapa sebagai lantai dansa yang sahih untuk ber-skanking. Dengan repertoar ska 2-tone klasik seperti ‘Gangster’, ‘Monkey Man’, ‘Blank Expression’, ‘Concrete Jungle’, ‘A Message To You Rudy’, ‘Little Bitch’, dan ‘Too Much To Young’ sebagai lagu penutup, lantai dansa dadakan dengan bahana koor penonton-pun mutlak terbentuk.

Ada jeda waktu sekitar satu jam menuju penampilan Blur sebagai puncak acara. Selama itu, penonton dihibur dengan kumpulan video-video inspiratif seputar olimpiade dan London sebagai kota penyelenggara, atau beberapa cuplikan pertandingan melalui LED screen raksasa di tengah panggung. Layar visual besar ini sekaligus berfungsi sebagai dinding pemisah antara penonton dan awak kru di balik layar yang tengah menyiapkan secara akas ragam peralatan audioserta set artistik tata panggung Blur yang memukau.

Selepas penampilan Madness ‘Our House’ yang disiarkan langsung dari Olympic Stadium melalui LED screen tersebut usai, saat itu juga visual layar berubah menjadi logo Blur besar berwarna putih dengan latar belakang biru. Sontak gradasi visual tadi menstimulan penonton untuk bersorak sekencang-kencangnya demi menyambut Blur yang tampak sudah steady di atas panggung saat layar besar tersebut perlahan terbelah menyamping menjadi dua bagian, dan memperlihatkan fantastisnya artistik panggung Blur yang direkonstruksi sedemikian rupa sehingga tampak seperti mereka sedang pentas di kolong jalan layang besar kota London. Pesan ‘Under The Westway’ bisa tertangkap dengan jelas disini.

Damon Albarn menyapa “Good evening.. Are you ready?” kepada para penonton sebelum Blur menyematkan ‘Girls and Boys’ sebagai sumbu set-list panjang mereka malam itu. Kontan koor massal dan arus liar mosh-pit tak bisa terhindarkan. Bertubi-tubi Blur menggeber repertoar ganas B-side maupun The Best Of seperti ‘London Loves’, ‘Tracy Jack’, ‘Jubilee’, ‘Beetlebum’, ‘Coffee and Tv’, ‘Out Of Time’ feat. Khyam Allami, ‘Young & Lovely’, ‘Trimm Trab’, maupun ‘Caramel’.

Sesaat sebelum ‘Sunday Sunday’ Damon sempat memancing dengan bertanya “What the day is today?” beberapa kali, dan penonton reflek mejawab “Sunday Sunday”, lantas meluncurlah track dari album Modern Life Is Rubbish tersebut dengan mengesankan.

Menyusul setelah itu ‘Country House’, ‘Parklife’ lengkap dengan dihadirkannya Phil Daniels dan komedian Inggris Herry Enfield yang berdandan bak tea lady sebagai gimmick panggung, ‘Colin Zeal, ‘Popscene’, ‘Advert’, ‘Song 2’ sebagai lagu yang bertanggung jawab untuk arus paling brutal di arena dansa, lalu kemudian ‘No Distance Left To Run’ yang berfungsi maksimal untuk memantulkan tensi pertunjukan 180 derajat menuju titik terlembut.

Ada energi emosional luar biasa indah yang terpancar saat ‘Tender’ dibawakan tepat satu lagu sebelum ‘This Is A Low’ yang dilepas menjadi ujung tombak menuju jeda encore. Disini, para penonton seakan tidak rela ‘Tender’ selesai. Mereka terus menerus menyanyikan potongan lirik ”oh my baby oh my baby oh why oh my” secaraacapellameskipun lagu itu sudah semestinya berakhir.

Dengan kembalinya Graham, Dave, Alex ke pos masing-masing, dan Damon yang langsung duduk di depan podium piano tepat di sebelah kiri drum-kit, saya kira mereka akan memainkan ‘Under The Westway’ setelah sesi encore. Dugaan saya salah. Ternyata ‘Sing’ dari album Leisure-lah yang dinobatkan untuk mengantarkan penonton menuju babak selanjutnya.

Baru sehabis itu, ‘Under The Westway’ yang di-medley dengan ‘Commercial Break’, ‘End Of Century’, ‘For Tomorrow, dan ‘The Universal’ sebagai lagu pamungkas sukses menjadi closing anthem yang mengharu-birukan Hyde Park (sekali lagi) pada malam itu.

Pada akhirnya, kredit lebih layak diberikan kepada New Order dan The Specials sebagai mesin-mesin banter tua pemanas atmosfer, tetapi hanya Blur yang mampu menyihir saya dan mungkin puluhan ribu penonton lainnya untuk kembali ke peraduan masing-masing dengan perasaan kagum yang absolut.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Noel Gallagher di Wembley Arena, Oasis, dan Terlanjur Cinta

Sejujurnya, saya sudah mendarat pada titik jemu dengan tabiat mulut besar Gallagher bersaudara dari Burnage, Manchester, tersebut yang beberapa tahun belakangan ini semakin menjengkelkan. Terlebih untuk sang kakak sekaligus pencipta seluruh masterpiece lagu-lagu Oasis, Noel Gallagher. Contoh kecil mulai dari celoteh “I missed playing guitar with Oasis”, atau “Being a solo artist is harder than being in Oasis”, sampai kelakar murahannya baru-baru ini “I wouldn’t reform Oasis even if all the world’s starving children depended on it”. Hal tersebut sungguh mengesankan kalau perjalanan panjang Oasis dari era Definitely Maybe di tahun 1994 sampai mereka bubar di tahun 2009 lalu menghilang sejenak sebelum kembali jalan dengan proyek masing-masing, tidak mampu mengubah sosok Noel sejatinya seperti pria matang yang dirasa sudah tidak perlu lagi melontarkan pernyataan-pernyataan picisan tersebut.

Celakanya, karena sudah kadung jatuh cinta kepada Oasis semenjak pertama kali mendengar  ‘Hello’ dari album brilian (What’s The Story) Morning Glory? merongrong tanpa henti dari telinga lalu menyetrum saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar, dan entah sudah berapa ribu kali album tersebut diputar bolak-balik hingga kini, saya tidak berpikir panjang lagi waktu Noel Gallagher’s Flying Birds mencetuskan 2012 tur yang dimana salah satu tempat  persinggahannya adalah Wembley Arena, London. Waktu itu saya sudah tahu kalau dalam turnya kali ini, Noel akan mengisi separuh dari set-listnya dengan lagu-lagu Oasis. Lebih gilanya lagi, dua lagu yang tampak mustahil untuk dibawakan Oasis bahkan jika mereka kembali reuni (walau saya sangat yakin kalau mereka akan reuni entah kapan) seperti ‘Dyer Wanna Be A Spaceman?’ atau ‘Whatever’ juga termaktub dalam repertoar 20 lagu NGHFB. Ringkasnya, pembelian tiket konser ini adalah murni bentuk nostalgia teruntuk Oasis.

Lewat pukul 7 malam waktu setempat, saya memasuki venue yang masih terlihat sangat lengang. Tak disangka ternyata Graham Coxon sebagai penampil pertama sudah memulai setnya. ‘Running For Your Life’ dari album teranyar A+E menyambut kedatangan saya dengan bising. Malam itu, kadar kebisingan yang ditimbulkan Graham Coxon & Co. sangatlah tidak nyaman. Terasa menusuk telinga. Bisa dibilang untuk tetap bertahan duduk di kursi tribun paling atas juga merupakan sebuah pengorbanan. Ketika ‘Ooh Yeh Yeh’ sebagai lagu terakhir usai, perasaan lega pun instan tercipta. Feel so sorry Mr. Coxon, to be honest.

Ketika lampu diterangkan, arus massa di kelas floor standing tampak memadat. Di sisi kiri dan kanan menuju pintu keluar, antrian penonton yang hendak membeli bir atau minuman beralkohol lainnya juga terlihat mengular. Memang orang Inggris dan Bir mustahil untuk dipisahkan. Saya mengira alokasi dana mereka untuk membeli bir pastilah sepadan dengan harga tiket konser itu sendiri.

Berikutnya unit indie rock asal Brighton, The Kooks, membuka dengan ‘Seaside’. Track pertama dari album premier The Kooks Inside in/Inside out tersebut mengalir teduh sebelum penonton dihentak dengan ‘Sofa Song’ yang lebih optimis.

Sebetulnya saya tidak mengikuti lagi perjalanan The Kooks selepas debut album mereka. Saya hanya tahu satu lagu berjudul ‘Shine On’ dari album sophomore The Kooks, dan senangnya lagu tersebut ternyata dibawakan. Menyusul kemudian ‘Ooh La’ dan ‘Naïve’ sebagai lagu terakhir yang menjerat tone volume penonton di level paling maksimal.

Terdapat jeda sekitar 1 jam sebelum Noel Gallagher’s High Flying Birds lengkap dengan komplotan paduan suara dan orkestra di baris belakang memasuki panggung megah bertata lampu dahsyat tersebut. ‘It’s Good To Be Free’ yang tercatat sebagai lagu Oasis dilepaskan sebagai peluru pertama malam itu sebelum semua orang ‘berlari’ di ‘Everybody’s On The Run’.

Inkorporasi lagu-lagu dari album solo Noel Gallagher dan Oasis memang amunisi yang mumpuni. Disaat semua orang bernyanyi riang pada lagu-lagu solo Noel seperti ‘If I Had A Gun’ atau ‘The Death Of You And Me’, maka ‘Supersonic’ yang terselip mengubah penonton dari bernyanyi riang menjadi bernyanyi garang.

Ya, lagu-lagu Oasis memang lebih menyentuh sisi emosional penonton yang hadir malam itu. Hal ini terbukti ketika selanjutnya repertoar era Noel di Oasis seperti ‘Dyer Wanna Be A Spaceman?’, ‘Talk Tonight’, ‘(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine’, ‘Half The World Away’ bergema, secara spontan mayoritas penonton mengangkat kedua tangan keatas sambil bernyanyi lebih keras serasa menemukan hidayah yang datang dari langit.

Setelah sesi encore, ini merupakan momen yang paling klimaks dan cenderung heroik. Selepas ‘Let The Lord Shine On Me’, tiga lagu terakhir ‘Whatever’, ‘Little By Little’ dan ‘Don’t Look Back In Anger’ sukses membombardir penonton untuk berteriak dan bernyanyi layaknya tiada hari esok. Terlebih pada ‘Don’t Look Back In Anger’, saya mendapati tak ada  satupun kursi di kelas tribun yang diduduki penonton, semuanya berdiri, bernyanyi, mengangkat tangan, dan beberapa bahkan sampai berpelukan.

‘Don’t Look Back In Anger’ sebagai lagu pengunci sukses mengharubirukan atmosfer Wembley Arena pada malam itu. Dengan set-list memuaskan dan performa tak terteter, saya dan mungkin puluhan ribu penonton lainnya seakan-akan terjerembab jatuh ke dalam lubang nostalgia Oasis heyday dan enggan untuk memanjat keluar dari zona nyaman tersebut. Pada titik ini bisa dirasakan kalau keabsahan Inggris Raya dalam mencintai Oasis memang tak bisa terbantahkan lagi.

Malam itu saya menanggalkan sejenak rasa jenuh terhadap perangai Liam dan Noel. Hal ini dilandaskan semata karena Oasis merupakan childhood musical hero saya. Tetapi, setelah beberapa minggu kemudian menemukan kembali pernyataan menggelikan Noel yang disadur NME mengenai penolakannya untuk menyatukan Oasis meski seluruh anak kelaparan di dunia menuntutnya, maka sudah saatnya saya harus mengistirahatkan mereka lagi…

Saya membenci untuk (terlanjur) mencintai Oasis.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Peter Doherty Dalam 5 Lagu Saja

Ada perasaan menyesal, geregetan, tetapi juga ikhlas saat menyaksikan gig ini. Menyesal karena sudah terlanjur menempuh perjalanan sekitar 2 jam via tube dan kereta atas tanah tetapi hanya mampu mendapatkan 5 lagu. Ditambah setelah itu saya harus berusaha ekstra keras untuk mengejar kereta terakhir menuju High Wycombe, sekitar 30 menit keluar London, pukul 00.10. Geregetan karena menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk ongkos dan tiket masuk (ongkos 12 pounds – tiket 9 pounds). Tetapi dilain sisi, juga merasa ikhlas karena setidaknya bisa mendengarkan tembang-tembang nakal kepunyaan The Libertines seperti ‘Time For Heroes’, ‘Music When The Lights Go Out, ‘What A Waster’, plus dua lagu dari album solo Peter Doherty ‘Arcady’ dan ‘Last Of The English Rose’.

Gig ini dibuka oleh band bernama MT pada pukul 21.45. Saya menangkap band ini mengusung tema pop-disko-elektronik yang tampaknya berusaha keras untuk menjadi The Killers selanjutnya.  MT sendiri terdiri dari (maaf, saya tidak tahu nama masing-masing personil) seorang vokalis berperawakan seperti Lorenzo Lamas dengan versi bernyanyi Brandon Flowers, gitaris berkumis ala hipster moustache serta tatanan rambut klimis pompadour, drummer gondrong berkebangsaan persia yang baru memasuki lagu kedua sudah membuka baju entah apa maksudnya selain memperlihatkan dada hitamnya yang dipenuhi bulu, dan satu orang kibordis wanita penawar rasa hambar visualisasi band tersebut. Band pembuka secara literal.

Setelah MT turun panggung, kru Pete Doherty yang hanya berjumlah 1 orang tampak akas menyiapkan set gitar akustik elektrik beserta 1 set amplifier berhias 2 botol wine dan 1 gelas kosong di atas amplifier head-nya (andaikan saya paham brands peralatan audio tersebut, sudah pasti saya tulis).

Muncul 5 menit lebih awal dari jadwal seharusnya pukul 10:45, Peter Doherty melangkah flamboyan dari sisi panggung dengan mengenakan kemeja putih berbalut cardigan sweater Fred Perry berwarna hitam. Izinkan saya untuk sok tahu, malam itu Pete terlihat lebih gemuk dan tembam di pipi. Mungkin saja hal ini disebabkan karena ia baru saja pulang rehab dari Thailand. Analisa cetek infotainment.

Menuju set, Pete mengambil ancang-ancang secara singkat dengan memetik gitar untuk beberapa bar, sebelum ‘Time For Heroes’ menyentak dan mengasung sing-along ekspresif penonton. Setelah lagu pertama tuntas, Pete menyapa penonton yang diselingi ucapan terimakasih kepada mereka yang sudah datang di The Hippodrome malam itu. ‘Arcady’ dari Pete debut solo album bertitel Grace/Wasteland  meluncur berikutnya sebagai lagu kedua dengan dinamis. Tak ada basa-basi setelah itu, ‘Music When The Lights Go Out’ disenandungkan dengan sempurna ditimpali dengan kembalinya arus kencang suara penonton yang bernyanyi dan berteriak. Tak berselang lama, ‘What A Waster’ dengan versi elementer akustik nan membius tersebut berkumandang. Ah, langsung lompat kegirangan saya!

Dengan berakhirnya ‘What A Waster’, perlahan saya mencari-cari celah untuk mundur keluar mengingat waktu menunjukan hampir pukul 11 malam. ‘Last Of The English Rose’ menjadi lagu pengiring menuju pintu keluar yang malam itu tampak seperti ‘pintu pilu’ yang tak ingin saya sentuh sebelum konser benar-benar berakhir.

Rasa dongkol pun bertambah setelah tahu dari NME keesokan siangnya, kalau lagu-lagu seperti ‘Beg Steal Or Borrow’, ‘Up The Bracket’, ‘Can’t Stand Me Now’, dan ‘Fuck Forever’ ternyata dipilih untuk menjadi lagu-lagu selanjutnya setelah lima lagu yang saya sebutkan diatas tadi.

Apa mau dikata, daripada harus menjadi gembel dadakan stasiun Marylebone malam itu, lebih baik melapangkan hati demi bisa tidur pulas di kasur kamar sempit saya sembari berburu jadwal baru gig Peter Doherty lainnya di London, guna menuntaskan dendam yang terlanjur meluap.

*Tulisan ini dibuat  sekitar pukul 4 -6 sore keesokan harinya setelah  The Hippodrome gig, dan tepat pukul 10:05 malam saya baru mengetahui melalui internet kalau ternyata Peter Doherty malam ini, Jumat 17 Agustus 2012, bermain pula di Brixton Jamm (venue ini jauh lebih dekat dan dimulai tidak terlalu malam!!). Sigh.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Why Do People Still Need Vinyls In The Triumph Digital Music Era?

From the very first time Thomas Edison created a record player called Phonograph in 1897 until Ipod inceptions in the new millennium era, people have made an effort to reach a pleasure way of listening music as conveniently as they could.

The easier music to access, the more people enjoy particular technology. For example, the advent of Compact Disc were such an era where music consumers could do a new particular technic at the moment called Fast Forward or Repeat precisely in a few seconds before songs even played that most tape players cannot do it automatically. It certainly wipes out almost cleanly the cassette industry.

Now, digital music or Mp3’s are leading the music format consumption. People can do  download and listen any songs wherever and whenever they want.

Apart from the illegal term, music downloads are dominant source of digital revenue and it continued growth in 2010. Digital Music Reports (2011) reports, Itunes has sold more than 10 billion downloads since its platform established in 2003. Subsequently in 2011, the record company revenues stream still dominant from digital music sector that grew at 8% globally to an estimated US$5.2 billion (Digital Music report, 2012).

Many thanks for the acceleration technology of internet that makes the recorded-music audience is fast expanding across the globe and also help artists who might not able to find a platform in distributing their music globally can get advantage of this new stream of music distribution that internet has been offered.

However, among those giant figures, there is a surprising statistic that noticeably interesting: vinyl album sales surged sharply at 43% from 2010 (BPI, 2012).

Vinyl surges is not likely to slow. According to BPI (2012), more than 300.000 vinyl records were sold in the United Kingdom in 2011. In addition, the celebration of independent record stores globally that called ‘Record Store Day’ also showed a huge amount in selling. Record Store Day (2012) reports, in some stores sales were increased for over 100% than previous year. Vinyl record sales passed about 50% compared to the Record Store Day in 2011.

Spencer Hickman, a Rough Trade East store manager says:

“I can’t believe just how busy RSD was again this year, there were queues round the block with fans both young and old enjoying the unique atmosphere indie stores. With vinyl sales again on the rise for the fifth year in a row indie record stores and RSD are proving to be more relevant than ever for the discerning music buyer.”

Referring to those kind of sophistically cultural phenomenon, it is definitely re-emergence of vinyl has been blessed as alternative music format consumption for huge people in the digital age.

Do not bother with the long-sighed argument that vinyl sounds perfectly better, but why people suddenly decided to choose this option?

It perhaps like elopement for those whom had little physical experiences in getting music through online or limited access to interact with the seller or other people. A store-buyer vinyl seems to say a community of ‘hunting and gathering’ music is something primal that the virtual has not been provided yet. Moreover, they would quite difficult to play record without feeling a more palpable and personal awareness to the music they listen to.

Considering to talk about aesthetics, with vinyl records people can touch, look, grope for the art-sleeve while they’re listening a whole record without skipping a track so they listen to the art of the album , all in one place. People love to talk romantically about big album art, the inserts and posters, the care that has to be taken removing the record from its sleeve, and spin it down to the circle of hiss as the needle drops.

Nostalgia is also could be the one of vinyl consumption motives because people are rediscovering the art and the sound of it album.  Some people seem to have an emotional relationship to the ‘good old vinyl’.  If the vinyl artifact is memory mediation, by playing it people are both remembering and contributing at its content (Fact Mag, 2012).

Even more, vinyl records could be defined as a personal identity, because it makes a distinguish among subcultural capital. Some others might even look for the view of political statement in the music consumption because it hasn’t driven by the latest trend of technology, which stands for the lifestyle instead. One example, some of them prefer vinyl record because it’s cool to have or at least they could get more attention from the people around when they took a picture with grasping of vinyl sleeve, which is a CD consumer does not have a sense like that.

In the end, this is about possessing an actual form of music to feel the music itself. While a huge number of people enjoy to consume music via digital music services, the return of vinyl format is verifying in these days that people still appeal to something real to hold on.

Image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rayuan California dari Best Coast

Lagu ini tepat sekali munculnya. Lagu yang sedang sering berotasi di Ipod saya. Lagu yang membuat saya tidak ingin lama-lama berada di negeri monarki ini. Lagu yang mengingatkan saya akan teriknya matahari perempatan pasar senen di pertengahan hari. Lagu yang menarik akal sehat saya untuk  segera membangun sinergisitas antara Jakarta-California.

Di sela-sela menunggu kepastian giliran masuk ke dalam ruang kaca segi empat yang terlihat seperti inkubator, dimana nantinya selama kurang lebih 30 menit saya akan melakukan presentasi akhir tentang ‘A vertical integration and value chains in Universal Music Group’, terdengarlah single terbaru Best Coast ‘The Only Place yang memang ada di playlist Ipod saya. Tanpa bermaksud menaikan tensi tulisan ini, The Only Place, yang tidak saya perkirakan sebelumnya, ternyata mampu menginjeksi sel-sel darah yang untuk sementara sedang tersumbat menjelang presentasi brengsek ini.

Semenjak single ‘The Only Place’ dilepas untuk diunduh secara legal ke pasaran pada 27 April lalu, lagu ini menambah daftar on-repeat di ipod saya berselingan dengan lagu dari Craft Spells yang berjudul ‘Your Tomb’ dan satu lagu dari Blitz yang berjudul ‘New Age’. Lagu-lagu penambah energi untuk memulai melangkahkan kaki yang terasa berat apabila dijalankan menuju kampus. Buka-bukaan saja.

Ritma pop musim panas favorit. Selalu membuat saya ingin terus memutarnya. Ya, ingin rasanya untuk terus memutar  lagu-lagu Best Coast sejak berkenalan dengan debut album mereka Crazy For You, album dimana Ali Koehler masih menjabat sebagai pemain drum. Teman yang cocok untuk jalan-jalan sore sambil merokok parlente.

Lagu penghias musim panas, begitu saya menyebutnya. Kocokan gitar sederhana ala Bethany Cosentino beriringan dengan alur alunan gitar sederhana yang siap menghantarkan saya menuju gerbang imajinasi pop selancar. Imajinasi dimana saya sedang santai berbaring diatas tempat tidur rajutan yang diikat kedua sisinya pada dua pohon kelapa yang berdiri berhadapan. Amboi nian.

Ditengok dari liriknya, jika tidak salah menduga, dan sepertinya saya salah, mungkin saja ini salah satu dari kampanye pariwisata California. Betapa penggalan lirik “Why would you live anywhere else? we’ve got the ocean, got the babes, got the sun, we’ve got the waves” begitu mempersuasi saya untuk menyambangi California suatu hari nanti. Hal serupa yang juga saya rasakan saat mendengar tembang-tembang cantik kepunyaan The Beach Boys, dan ya, betul, The Beach Boys juga berasal dari California.

Hati kecil saya mendadak berbisik, untung saja saya tidak tergoda rayuan California karena lagu ‘California Girls’ milik Katy Perry feat. Snoop Dogg. Huh.

*Tulisan ini dibuat satu hari setelah Best Coast secara resmi merilis album ‘The only place’ pada tangal 15 mei 2012 ke seluruh dunia. Sabtu ini saya akan membelinya. 

Image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Candu Morrissey

Saat menulis tulisan ini, saya sudah kembali ke negeri yang berhutang banyak kehidupan kepada salah satu rakyatnya; Steven Patrick Morrissey. Sembari memutar piringan hitam dari salah satu unit Creation Records; House of Love, saya memulai perburuan tiket konser pulang kampung Morrissey di Manchester akhir Juli nanti. Ternyata, di luar dugaan, setelah menyaksikan konser Morrissey secara langsung di Jakarta, hal tersebut menjadi candu.

5 hari yang lalu, rasanya seperti tidak percaya menyaksikan konser tunggal Morrissey di Jakarta, kota kebanggaan saya. Membayangkan kalau Morrissey bisa menginjakan kaki di kota itu pun, saya tidak pernah berani.

Cuplikan video-video yang beberapa diantaranya berasal dari Shocking Blue, Vince taylor, Nico, New York Dolls, maaf kalau ada yang terlewat, menjadi substansi meyakinkan pemanja audio visual sebelum layar putih digelontorkan, dan Morrissey menyapa penonton dengan berucap “Selamat malam, Jakarta”. Intro ‘How Soon Is Now’ menggelegar, ritual keagamaan kaum pop gladiol dimulai.

Total 19 lagu Morrissey bawakan malam itu. Mulai dari 4 lagu pertama (‘How Soon Is Now’, ‘You Have Killed Me’, ‘You’re The One For Me Fatty’, ‘Alma Matters’) yang memancing histeria arus utama, sampai ‘Speedway’ dari album paling diburu para penganut paham Moz/Smiths-isme; ‘Vauxhall and I’, yang didaulat sebagai lagu terakhir sebelum encore. Tak terasa air mata pun bercucuran selaras dengan keringat pada awal lagu ‘Alma matters’ . Entah mengapa, padahal saya sudah amat sangat jarang mendengar lagu tersebut, biasa-biasa saja, dan bukan pula lagu jagoan saya, entahlah… terima kasih Morrissey.

Beberapa kali Morrissey mengeluarkan kata-kata yang membuat saya terkaget, tersenyum, terharu, dan mengernyitkan dahi. Mulai dari “Selamat malam Jakarta”, kalimat ini membuat saya terkagum karena ternyata bahasa Indonesia bapak ini lumayan bagus, “I didn’t expect this”, ini kalimat yang membangkitkan sisi emosional sekaligus nasionalisme (Ya, malam itu kebanggaan saya akan Jakarta sedang mencapai puncak), sampai dengan kalimat “You’re English is very good… not  really good”, membuat larut dalam setengah tawa.

Ada dua lagu yang menyayat sisi sensitif pribadi saya sebagai seorang manusia jumawa. Pertama, ‘Meat Is Murder’ adalah lagu yang membuat saya terhanyut dalam… dalam sedalam-dalamnya perasaan sapi di dalam video yang berjalan ringkih akibat ulah predator sesungguhnya, manusia. Seolah-olah video tersebut memasukan saya ke kandang sapi tersebut, dan memaksa untuk menjadi salah satu dari binatang malang tersebut. Sungguh saya tidak mau. Setelah dilepas sendirian mengawang di galaksi dunia resah gelisah ala Morrissey, intro ‘Let Me Kiss You’, yang bagi saya seperti suara denyut nadi, memecah perasaan tak menentu tadi menjadi pembuka perjalanan spiritual romansa begitu indahnya. Sepanjang ‘Let me kiss you’, saya bernyanyi dengan memejamkan mata, kepala mendongak ke atas, serasa di ruangan berkapasitas kurang lebih 5000 kepala tersebut, hanyalah saya berdua dengan dia. Dengan Morrissey.

Aaahh… atmosferik sekali…

Jujur, walau ‘Still Ill’ berhasil membuat saya berdansa liar malam itu seraya menyanyikan dengan sekeras-kerasnya penggalan lirik edan “England is mine and it owes me a living”, ‘There is a light that never goes out’ adalah lagu yang sangat saya impikan menjadi raja terakhir. Dengan tidak dimasukkannya ‘There Is A Light That Never Goes Out’ ke dalam set-list Jakarta, berarti pekerjaan rumah belum selesai. Morrissey, tunggu aku di kotamu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment